Tuesday, January 27, 2015
VOCTEN_MALANG_0N ADIWIYATA
2:13 AM
No comments
Diterbitkan tanggal 26 Jan 2015
VOCTEN_MALANG_0N ADIWIYATA
ABOUT VOCTEN-greenschool program in Vocational High School Tern Malang
ABOUT VOCTEN-greenschool program in Vocational High School Tern Malang
-
Kategori
-
Lisensi
- Lisensi YouTube Standar
Friday, March 7, 2014
Penanggulangan Pencemaran Air
Limbah
atau bahan buangan yang dihasilkan dari semua aktifitas kehidupan manusia, baik
dari setiap rumah tangga, kegiatan pertanian, industri serta pertambangan tidak
bisa kita hindari. Namun kita masih bisa mencegah atau paling tidak mengurangi
dampak dari limbah tersebut, agar tidak merusak lingkungan yang pada akhirnya
juga akan merugikan manusia. Mengetahui dampak buruk dari pencemaran air
tersebut, maka kita bisa hidup lebih sehat. Pengolahan air yang baik akan
menghasilkan air sehat dan steril dari semua bahan pencemar tersebut. Salah
satu teknologi yang mampu menghasilkan air bebas dari semua bahan pencemar
adalah sistem reverse osmosis.
Untuk
mencegah atau paling tidak mengurangi segala akibat yang ditimbulkan oleh
limbah berbahaya; setiap rumah tangga sebaiknya menggunakan deterjen secukupnya
dan memilah sampah organik dari sampah anorganik. Sampah organik bisa dijadikan kompos, sedangkan sampah
anorganik bisa didaur ulang. Penggunaan pupuk dan pestisida secukupnya atau
memilih pupuk dan pestisida yang mengandung bahan-bahan yang lebih cepat
terurai, yang tidak terakumulasi pada rantai makanan, juga dapat megurangi
dampak pencemaran air. Setiap pabrik / kegiatan industri sebaiknya memiliki
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), untuk mengolah limbah yang
dihasilkannya sebelum dibuang ke lingkungan sekitar. Dengan demikian diharapkan
dapat meminimalisasi limbah yang dihasilkan atau mengubahnya menjadi limbah
yang lebih ramah lingkungan.
Mengurangi
penggunaan bahan-bahan berbahaya dalam kegiatan pertambangan atau menggantinya
dengan bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan. Atau diharuskan membangun
Instalasi Pengolahan Air Limbah pertambangan, sehingga limbah bisa diolah
terlebih dahulu menjadi limbah yang lebih ramah lingkungan, sebelum dibuang
keluar daerah pertambangan. Optimalisasi instalasi pengolahan limbah (IPAL)
masing-masing industri sehingga limbah cair yang dibuang kembali ke badan air
sudah memenuhi standar kualitas air limbah yang diperbolehkan.
Dalam
keseharian kita, kita dapat mengurangi pencemaran air, dengan cara mengurangi jumlah sampah yang kita produksi setiap hari (minimize), mendaur ulang (recycle),
mendaur pakai (reuse). Kita pun perlu memperhatikan bahan kimia yang kita buang
dari rumah kita. Karena saat ini kita telah menjadi “masyarakat kimia”, yang
menggunakan ratusan jenis zat kimia dalam keseharian kita, seperti mencuci,
memasak, membersihkan rumah, memupuk tanaman, dan sebagainya.
Menjadi
konsumen yang bertanggung jawab merupakan tindakan yang bijaksana. Sebagai
contoh, kritis terhadap barang yang dikonsumsi, apakah nantinya akan menjadi
sumber pencemar yang persisten, eksplosif, korosif dan beracun, atau degradable
(dapat didegradasi) alam? Apakah barang yang kita konsumsi nantinya dapat
meracuni manusia, hewan, dan tumbuhan, aman bagi mahluk hidup dan lingkungan ?
Teknologi
dapat kita gunakan untuk mengatasi pencemaran air.
Instalasi pengolahan air bersih, instalasi pengolahan air limbah, yang dioperasikan dan dipelihara baik, mampu
menghilangkan substansi beracun dari air yang tercemar. Walaupun demikian, langkah pencegahan
tentunya lebih efektif dan bijaksana.
Untuk
mencegah agar tidak terjadi pencemaran air, dalam aktivitas kita dalam memenuhi
kebutuhan hidup hendaknya tidak menambah terjadinya bahan
pencemar antara lain
tidak membuang sampah rumah tangga, sampah rumah sakit, sampah/limbah
industri secara sembarangan, tidak
membuang ke dalam air sungai, danau ataupun ke dalam selokan. Tidak menggunakan
pupuk dan pestisida secara berlebihan, karena sisa pupuk dan pestisida akan
mencemari air di lingkungan tanah pertanian. Tidak menggunakan deterjen fosfat,
karena senyawa fosfat merupakan makanan bagi tanaman air seperti enceng gondok
yang dapat menyebabkan terjadinya pencemaran air.
Pencemaran
air yang telah terjadi secara alami misalnya adanya jumlah logam-logam berat
yang masuk dan menumpuk dalam tubuh manusia, logam berat ini dapat meracuni
organ tubuh melalui pencernaan karena tubuh memakan tumbuh-tumbuhan yang
mengandung logam berat meskipun diperlukan dalam jumlah kecil. Penumpukan
logam-logam berat ini terjadi dalam tumbuh-tumbuhan karena terkontaminasi
oleh limbah industri. Untuk menanggulangi agar tidak terjadi penumpukan
logam-logam berat, maka limbah industri hendaknya dilakukan pengolahan sebelum
dibuang ke lingkungan. Proses pencegahan terjadinya pencemaran lebih baik
daripada proses penanggulangan terhadap pencemaran yang telah terjadi.
Pengolahan Air
Limbah
Limbah industri sebelum dibuang ke tempat
pembuangan, dialirkan ke sungai atau selokan hendaknya dikumpulkan di suatu
tempat yang disediakan, kemudian diolah, agar bila terpaksa harus dibuang ke
sungai tidak menyebabkan terjadinya pencemaran air. Bahkan kalau dapat setelah
diolah tidak dibuang ke sungai melainkan dapat digunakan lagi untuk keperluan
industri sendiri. Sampah padat dari rumah tangga berupa plastik atau serat
sintetis yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme dipisahkan, kemudian
diolah menjadi bahan lain yang berguna, misalnya dapat diolah menjadi keset.
Sampah organik yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme dikubur dalam lubang
tanah, kemudian kalau sudah membusuk dapat digunakan sebagai pupuk.
Teknologi dapat kita gunakan untuk mengatasi
pencemaran air. Instalasi pengolahan air bersih, instalasi pengolahan air limbah, yang dioperasikan dan dipelihara baik,
mampu menghilangkan substansi beracun dari air yang
tercemar. Walaupun demikian, langkah pencegahan tentunya lebih efektif dan
bijaksana.
Dalam melakukan usaha pengawasan yang diikuti
dengan usaha pencegahan pencemaran air, harus dititikberatkan pada pengontrolan
sumber pencemarannya. Ada dua bentuk sumber pencemar, yaitu sumber
pencemar utama (point source)
dan sumber pencemar lainnya (non-point
source). Sumber pencemar utama biasa-nya berasal dari sumber polusi yang
menyebabkan pencemaran kadar tinggi, yaitu dari limbah pabrik maupun sarana
pengolahan limbah. Sumber pencemar lainnya ialah sumber polusi dengan kadar
pencemar relatif rendah yang berasal dari bermacam-macam sumber yang menyebar,
misalnya dari lahan pertanian, rumah tangga, peternakan, dan sebagainya.
Usaha Pengontrolan dari Sumber Pencemaran Utama
(Point)
Sarana pengolahan limbah dalam kebanyakan negara yang sedang berkembang dan
beberapa negara yang sudah maju terkadang tidak dilengkapi dengan perlakuan
khusus. Pada kebanyakan Negara maju sarana pengolahan limbah dilengkapi dengan
pemurnian air limbah yang melalui beberapa tingkat. Di daerah permukiman
biasanya limbah yang berupa tinja ditampung dalam septic-tank, setiap rumah mempunyai septictank tersendiri. Limbah rumah tangga lainnya dibuang melalui
selokan, terkadang limbah padat lainnya dibuang melalui selokan atau tempat
sampah yang sering tidak terurus.
Dengan demikian dalam pengontrolan sumber pencemar utama (point) tersebut semua limbah cair ditampung dalam satu atau
beberapa tempat penampungan tiap kelompok dalam satu area (misalnya daerah
industri atau perkotaan). Kemudian diadakan perlakuan bertahap, misalnya
diendapkan dan kemudian didesinfeksi, baru dibuang. Dalam suatu lokasi daerah
urban yang besar seperti kota mandiri atau suatu kompleks perumahan atau real estate,
limbah cair dari perumahan, perkantoran, dan pabrik dialirkan dalam suatu
system kerja (network) melalui pipa
saluran limbah dan ditampung dalam sarana pengolahan limbah yang besar tetapi
di sini terjadi permasalahan dalam system kombinasi saluran limbah tersebut,
yaitu bila terjadi hujan yang lebat dan lama. Air yang mengalir akan melebihi
kapasitas penampungan saluran tersebut 100 kali lebih besar daripada yang dapat
ditampung dalam sarana pengolah limbah, sehingga kelebihan air yang meluber
sebelum diolah akan masuk ke dalam air permukaan.
Pengontrolan Sumber Pencemar Lainnya (non-point)
Pengontrolan sumber pencemar yang relative kecil tetapi banyak lokasi, agak
sulit dilakukan. Sumber pencemar seperti terjadinya erosi, pemakaian pupuk dan
pestisida yang dilakukan petani, pengontrolannya dilakukan dengan sistem
kampanye dan penerangan. Pengontrolan yang dilakukan untuk usaha pencegahan
terjadinya erosi, misalnya dengan penanaman pohon (reboisasi) dan
pengurangan penggunaan pupuk dan pestisida di lahan pertanian.
Dalam usaha pencegahan polusi yang berasal dari sumber non-point tersebut, terutama ditujukan pada para petani atau
pengusaha pertanian dan peternakan, yang bertujuan mencegah mengalirnya pupuk
pertanian ke dalam air permukaan yang digunakan penduduk. Petani disarankan
agar mengurangi penggunaan pupuk yang terkadang terlalu berlebihan dan tidak
bercocok tanam di lokasi lahan yang miring.
Ada beberapa cara pencegahan kontaminasi air
permukaan oleh aliran air dari lahan pertanian.
a. Sistem tanam digunakan tanpa pengolahan tanpa sehingga
memperlambat aliran larutan pupuk dan larutan tanah Lumpur ke dalam permukaan
air.
b. Lahan pertanian secara berkala ditanami kedelai atau
tanaman yang dapat mengikat nitrogen (kacang-kacangan) sehingga mengurangi
penggunaan pupuk nitrogen.
c. Kepada petani disarankan supaya membuat daerah penyangga
yang di tanami dengan tanaman keras dan permanen di antara lahan pertanian
dengan aliran air permukaan.
d. Petani disarankan agar mengurangi penggunaan pestisida
atau tidak menggunakan pestisida sama sekali, dengan cara menggunakan system
biologi control, misalnya pemeliharaan serangga pemangsa hama serangga lainnya.
e. Dalam bidang peternakan, kepada peternak dianjurkan agar
tidak memelihara ternak melebihi kapasitas kandang atau lahan yang tersedia.
f. Kandang sebaiknya tidak lokasi di lahan yang miring atau
dekat dengan sungai atau waduk yang airnya digunakan penduduk.
g. Kotoran hewan dikumpulkan secara teratur untuk digunakan
sebagia pupk tanaman.
Pengolahan
Limbah Cair
Bilamana semua limbah sudah masuk ke dalam bak atau kolam penampung akhir,
limbah kemudian diolah melalui tiga tingkat penjernihan. Tingkat penjernihan ini bergantung pada tipe pengolahan
dan derajat kotoran limbah tersebut. Tiga tingkat pengolahan limbah berdasarkan
derajat kekotorannya di klasifikasikan sebagai berikut.
a. Pengolahan limbah primer: pengolahan limbah secara
mekanik dengan jalan menyaring kotoran kasar, seperti penggunaan batu, potongan
kayu atau pasir, kemudian suspensi padat di endapkan. Bahan kimia terkadang
perlu di tambahkan untuk mempercepat pengendapan.
b. Pengolahan limbah skunder: pengolahan limbah yang
melibatkan proses biologi dengan menambahkan bakteri aerobik sebagai tahap
pertama untuk mendegradasi limbah organik. Proses ini dapat menghilangkan 90%
limbah organik yang mengkonsumsi oksigen. Beberapa sistem menggunakan filter
sehingga cairan yang di filter menetes-netes. Bakteri aerobik mendegradasi
melalui saluran tangki yang besar dan telah di isi bebatuan kecil dan di lapisi
oleh bakteri dan protozoa. Sistem lain yaitu dengan peroses pemompaan limbah
lumpur ke dalam tangki yang besar; di situ dicampur dengan lumpur yang
mengandung banyak bakteri dan diberi aerasi oksigen, sehingga akan meningkatkan
proses degradasi oleh mikroorganisme tersebut. Cairan kemudian dialirkan ke
dalam bak dan didigesti dengan digestor anaerobik.
Pengolahan Limbah Lanjutan
Beberapa jenis bahan kimia dan fisik yang masih tertinggal setelah pengolahan
limbah primer dan skunder walaupun dalam jumlah sedikit, sehingga perlu
dilakukan system pengolaan limbah yang lebih baik. Model pengolahan limbah
lanjutan bervariasi tergantung pada bentuk komunitas dan industri yang bersangkutan.
Pada percobaan pendahuluan terlihat bahwa air limbah dari pengolahan skunder
dapat lebih dimurnikan lagi dengan disalurkan melalui saluran pipa yang panjang
dan ditumbuhi oleh tanaman air seperti hyacinth.
Tanaman tersebut dapat mengambil bahan kimia organik toksik dan komponen logam
yang tidak dapat diambil oleh sistem pengolahan limbah primer dan skunder.
Tahap akhir pengolahan ini ialah melakukan desinfeksi air sebelum dibuang ke
sungai atau ka laut atau digunakan untuk pemupukan. Proses desinfeksi dilakukan
dengan klorinasi, tetapi masalahnya ialah klorin bereaksi dengan bahan organik
yang berada dalam limbah atau dalam air permukaan, seperti bentuk senyawa
kloroform yang merupakan bahan kimia penyebab kanker (karsinogenik). Disamping
itu, beberapa penelitian pendahuluan menyatakan bahwa air minum yang mengandung
klorin 1% dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah, dapat menimbulkan
resiko terjadinya peyakit jantung. Beberapa macam bahan desinfektan dicoba
untuk digunakan seperti ozon dan sinar ultravioalet, tetapi memerlukan biaya
yang lebih mahal dari pada desinfektan klorin
Rangkuman
Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal
dan memiliki karak-teristik yang berbeda-beda. Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi.
Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan
kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya
oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem. Industri
membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin
organik, minyak,
nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang
dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang
dapat juga mengurangi oksigen dalam air.
Air merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan di
muka bumi terutama bagi manusia. Oleh karena itu apabila air yang akan
digunakan mengandung bahan pencemar akan mengganggu kesehatan manusia,
menyebabkan keracunan bahkan sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian
apabila bahan pencemar itu tersebut menumpuk dalam jaringan tubuh manusia.
Thursday, March 6, 2014
PENCEMARAN AIR
Pokok masalah kita, umat manusia. Air secara sangat cepat
menjadi sumberdaya yang makin langka dan tidak ada sumber penggantinya.
Walaupun sekitar 70 persen permukaan bumi ditempati oleh air, namun 97 persen
darinya adalah air asin dan tidak dapat langsung dikonsumsi manusia. Dari
jumlah yang sedikit yang mungkin dapat dimanfaatkan tersebut, manusia masih
menghadapi permasalahan yang amat mendasar. Pertama, adanya variasi musim dan
ketimpangan spasial ketersediaan air. Pada musim hujan, beberapa bagian dunia
mengalami kelimpahan air yang luar biasa besar dibandingkan dengan bagian lain
sehingga berakibat terjadinya banjir dan kerusakan lain yang ditimbulkannya.
Pada musim kering, kekurangan air dan kekeringan menjadi bencana yang
mengerikan di beberapa bagian dunia lainnya yang mengakibatkan terjadinya
bencana kelaparan dan kematian. Permasalahan mendasar yang kedua adalah
terbatasnya jumlah air segar di planet bumi yang dapat dieksplorasi dan
dikonsumsi, sedangkan jumlah penduduk dunia yang terus bertambah menyebabkan
konsumsi air segar mening-kat secara drastis, dan kerusakan lingkungan termasuk
kerusakan sumber daya air terjadi secara konsisten.
Kajian global kondisi air di dunia yang disampaikan pada World
Water Forum II di Denhaag tahun 2000, memproyeksikan bahwa pada tahun 2025
akan terjadi krisis air di beberapa negara. Meskipun Indonesia termasuk 10
negara kaya air namun krisis air diperkirakan akan terjadi juga, sebagai akibat
dari kesalahan pengelolaan air yang tercermin dari tingkat pencemaran air yang
tinggi, pemakaian air yang tidak efisien, fluktuasi debit air sungai yang
sangat besar, kelembagaan yang masih lemah dan peraturan perundang-undangan
yang tidak memadai.
Pencemaran
Air
Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu
tempat penam-pungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat
aktivitas manusia. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa
bumi, dll., juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal
ini tidak dapat disalahkan sebagai penyebab pencemaran air. Menurut Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001, Tentang Pengelolaan Kualitas
Air Dan Pengendalian Pencemaran Air. Pencemaran air adalah masuknya atau
dimasukannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air
oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu
yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Air
yang tercemar secara fisik dapat dilihat adanya perubahan dari warna asli,
walaupun dapat juga tidak tampak perubahan yang nyata. Contoh perbedaan
nyata air jernih dan tercemar seperti Gambar 5.1.
Pencemaran
air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karak-teristik yang
berbeda-beda. Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi.
Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan
kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya
oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem. Industri
membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat,
toksin organik, minyak, nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek
termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga
mengurangi oksigen dalam air.
Penyebab
Pencemaran Air
Banyak penyebab pencemaran air tetapi secara umum dapat dikategorikan sebagai sumber
kontaminan langsung dan tidak langsung. Sumber langsung meliputi efluen yang
keluar dari industri, TPA (Tempat Pembuangan Akhir Sampah), dan sebagainya.
Sumber tidak langsung yaitu kontaminan yang memasuki badan air dari tanah, air
tanah, atau atmosfer berupa hujan. Tanah dan air
tanah mengandung sisa dari aktivitas pertanian seperti pupuk dan pestisida.
Kontaminan dari atmosfer juga berasal dari aktivitas manusia yaitu pencemaran
udara yang menghasilkan hujan asam.
Pencemaran air berdampak luas, misalnya dapat meracuni sumber air minum,
meracuni makanan hewan, ketidakseimbangan ekosistem sungai dan danau,
pengrusakan hutan akibat hujan asam, dan sebagainya. Di badan air, sungai dan danau, nitrogen dan fosfat (dari kegiatan pertanian)
telah menyebabkan pertumbuhan tanaman air yang di luar kendali (eutrofikasi berlebihan). Ledakan
pertumbuhan ini menyebabkan oksigen, yang seharusnya digunakan bersama oleh seluruh hewan/
tumbuhan air, menjadi berkurang. Ketika tanaman air tersebut mati, dekomposisi mereka menyedot lebih banyak oksigen. Sebagai akibatnya, ikan akan mati, dan aktivitas
bakteri menurun.
Limbah industri sangat potensial sebagai penyebab
terjadinya pencemaran air. Pada umumnya limbah industri mengandung limbah B3,
yaitu bahan berbahaya dan beracun. Menurut PP 18 tahun 99 pasal 1, limbah B3
adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun yang dapat mencemarkan atau merusak lingkungan hidup sehingga
membahayakan kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk lainnya.
Karakteristik limbah B3 adalah korosif/ menyebabkan karat, mudah terbakar dan
meledak, bersifat toksik/ beracun dan menyebabkan infeksi/penyakit. Limbah
industri yang berbahaya antara lain yang mengandung logam dan cairan asam.
Misalnya limbah yang dihasilkan industri pelapisan logam, yang mengandung
tembaga dan nikel serta cairan asam sianida, asam borat, asam kromat, asam
nitrat dan asam fosfat. Limbah ini
bersifat korosif, dapat mematikan tumbuhan dan hewan air. Pada manusia
menyebabkan iritasi pada kulit dan mata, mengganggu pernafasan dan menyebabkan
kanker.
Logam yang paling berbahaya dari
limbah industri adalah merkuri atau yang dikenal juga sebagai air raksa (Hg)
atau air perak. Limbah
yang mengandung merkuri selain berasal dari industri logam juga berasal dari
industri kosmetik, batu baterai, plastik dan sebagainya. Di Jepang antara tahun
1953–1960, lebih dari 100 orang meninggal atau cacat karena mengkonsumsi ikan
yang berasal dari Teluk Minamata. Teluk ini tercemar merkuri yang bearasal dari
sebuah pabrik plastik. Senyawa merkuri yang terlarut dalam air masuk melalui
rantai makanan, yaitu mula-mula masuk ke dalam tubuh mikroorganisme yang
kemudian dimakan yang dikonsumsi manusia. Bila merkuri masuk ke dalam tubuh
manusia melalui saluran pencernaan, dapat menyebabkan kerusakan akut pada
ginjal sedangkan pada anak-anak dapat menyebabkan Pink Disease/acrodynia,
alergi kulit dan kawasaki disease/ mucocutaneous lymph node syndrome.
Limbah
pertambangan seperti batubara biasanya mengandung asam sulfat dan senyawa besi,
yang dapat mengalir ke luar daerah pertambangan. Air yang mengandung kedua
senyawa ini dapat berubah menjadi asam. Bila air yang bersifat asam ini
melewati daerah batuan karang/kapur akan melarutkan senyawa Ca dan Mg dari
batuan tersebut. Selanjutnya senyawa Ca dan Mg yang larut terbawa air akan
memberi efek terjadinya air sadah, yang tidak bisa digunakan untuk mencuci
karena sabun tidak bisa berbuih. Bila dipaksakan akan memboroskan sabun, karena
sabun tidak akan berbuih sebelum semua ion Ca dan Mg mengendap. Limbah
pertambangan yang bersifat asam bisa menyebabkan korosi dan melarutkan
logam-logam sehingga air yang dicemari bersifat racun dan dapat memusnahkan
kehidupan akuatik.
Selain pertambangan batubara, pertambangan lain yang menghasilkan
limbah berbahaya adalah pertambangan emas. Pertambangan emas menghasilkan
limbah yang mengandung merkuri, yang banyak digunakan penambang emas
tradisional atau penambang emas tanpa izin, untuk memproses bijih emas. Para
penambang ini umumnya kurang mempedulikan dampak limbah yang mengandung merkuri
karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki. Biasanya mereka membuang dan
mengalirkan limbah bekas proses pengolahan pengolahan ke selokan, parit, kolam
atau sungai. Merkuri tersebut selanjutnya berubah menjadi metil merkuri karena
proses alamiah. Bila senyawa metil merkuri masuk ke dalam tubuh manusia melalui
media air, akan menyebabkan keracunan seperti yang dialami para korban Tragedi
Minamata.
Bahan Pencemar Air
Pada dasarnya Bahan Pencemar Air dapat dikelompokkan
menjadi:
a) Sampah yang dalam proses penguraiannya
memerlukan oksigen yaitu sampah yang mengandung senyawa organik,
misalnya sampah industri makanan, sampah industri gula tebu, sampah rumah
tangga (sisa-sisa makanan), kotoran manusia dan kotoran hewan, tumbuhtumbuhan
dan hewan yang mati. Untuk proses penguraian sampahsampah tersebut memerlukan
banyak oksigen, sehingga apabila sampah-sampah tersbut terdapat dalam air, maka
perairan (sumber air) tersebut akan kekurangan oksigen, ikan-ikan dan organisme
dalam air akan mati kekurangan oksigen. Selain itu proses penguraian sampah
yang mengandung protein (hewani/nabati) akan menghasilkan gas H2S
yang berbau busuk, sehingga air tidak layak untuk diminum atau untuk mandi.
C, H, S, N, + O2 ® CO2 + H2O + H2S + NO + NO2
Senyawa organik
b) Bahan pencemar penyebab terjadinya penyakit, yaitu
bahan pencemar yang mengandung virus dan bakteri misal bakteri coli yang dapat
menyebabkan penyakit saluran pencernaan (disentri, kolera, diare, types) atau
penyakit kulit. Bahan pencemar ini berasal dari limbah rumah tangga, limbah
rumah sakit atau dari kotoran hewan/manusia.
c) Bahan pencemar senyawa anorganik/mineral
misalnya logam-logam berat seperti merkuri (Hg), kadmium (Cd), Timah hitam
(pb), tembaga (Cu), garam-garam anorganik. Bahan pencemar berupa logam-logam
berat yang masuk ke dalam tubuh biasanya melalui makanan dan dapat tertimbun
dalam organ-organ tubuh seperti ginjal, hati, limpa saluran pencernaan lainnya
sehingga mengganggu fungsi organ tubuh tersebut.
d) Bahan pencemar organik yang tidak dapat
diuraikan oleh mikroorganisme yaitu senyawa organik berasal dari pestisida,
herbisida, polimer seperti plastik, deterjen, serat sintetis, limbah industri dan limbah minyak. Bahan
pencemar ini tidak dapat dimusnahkan oleh mikroorganisme, sehingga akan
menggunung dimana-mana dan dapat mengganggu kehidupan dan kesejahteraan makhluk
hidup.
e) Bahan pencemar berupa makanan tumbuh-tumbuhan
seperti senyawa nitrat, senyawa fosfat dapat menyebabkan tumbuhnya alga
(ganggang) dengan pesat sehingga menutupi permukaan air. Selain itu akan
mengganggu ekosistem air, mematikan ikan dan organisme dalam air, karena kadar
oksigen dan sinar matahari berkurang. Hal ini disebabkan oksigen dan sinar
matahari yang diperlukan organisme dalam air (kehidupan akuatik) terhalangi dan
tidak dapat masuk ke dalam air.
f) Bahan pencemar berupa zat radioaktif, dapat
menyebabkan penyakit kanker, merusak sel dan jaringan tubuh lainnya. Bahan
pencemar ini berasal dari limbah PLTN dan dari percobaan-percobaan nuklir
lainnya.
g) Bahan pencemar berupa endapan/sedimen seperti
tanah dan lumpur akibat erosi pada tepi sungai atau partikulat-partikulat
padat/lahar yang disemburkan oleh gunung berapi yang meletus, menyebabkan air
menjadi keruh, masuknya sinar matahari berkurang, dan air kurang mampu
mengasimilasi sampah.
h) Bahan pencemar berupa kondisi (misalnya
panas), berasal dari limbah pembangkit tenaga listrik atau limbah industri
yang menggunakan air sebagai pendingin. Bahan pencemar panas ini menyebabkan
suhu air meningkat tidak sesuai untuk kehidupan akuatik (organisme, ikan dan
tanaman dalam air). Tanaman, ikan dan organisme yang mati ini akan terurai
menjadi senyawa-senyawa organik. Untuk proses penguraian senyawa organik ini memerlukan
oksigen, sehingga terjadi penurunan kadar oksigen dalam air.
Secara garis besar bahan pencemar air tersebut di atas
dapat dikelompokkan menjadi:
1. Bahan pencemar organik, baik yang
dapat mengalami penguraian oleh mikroorganisme maupun yang tidak dapat
mengalami penguraian.
2. Bahan pencemar anorganik, dapat berupa
logam-logam berat, mineral (garam-garam anorganik seperti sulfat, fosfat,
halogenida, nitrat).
3. Bahan pencemar berupa sedimen/endapan
tanah atau lumpur.
4. Bahan pencemar berupa zat radioaktif.
5. Bahan pencemar berupa panas.
Dampak Pencemaran Air
Memang kita akui pencemaran air saat ini sudah sangat
memprihatinkan. Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa, limbah dari rumah
tangga, pabrik, dan industri telah menyumbangkan pencemaran air. Limbah yang berasal dari rumah tangga antara lain
bersumber dari detergen, sampah sisa makanan, dll. Yang paling parah adalah
limbah dari pabrik dan industri. Jika tidak diolah terlebih dahulu, dampaknya
sangat buruk terhadap air. Banyak kasus pencemaran air yang bisa berakibat
keracunan hingga kematian.
Di pertanian juga bisa menimbulkan pencemaran air,
contohnya adalah pemakaian obat kimia yang berlebihan. Pestisida, herbisida dan
fungisida akan larut ke air dan menyebabkan pencemaran air. Dengan mengetahui
efek negatif dari bahan kimia pertanian itu, maka pencemaran bisa dikurangi.
Kondisi kebersihan air diperparah dengan makin menipisnya tanaman. Fungsi
tanaman adalah menahan air dan mampu menyerap racun dari air. Secara umum bahan
pencemar air dapat dikelompokkan dalam 3 jenis yaitu biologis, kimia dan fisik.
Pencemaran ini sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan. Kita sering mendengar
berita adanya keracunan dan kematian karena air yang tercemar ini. Efek yang
paling ringan adalah penyakit kulit. Gejala yang lain adalah gangguan pada
ginjal, kanker, saraf pusat dll.
Diantara
sekian banyak bahan pencemar air ada yang beracun dan
berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. Telah anda pelajari bahwa bahan pencemar air antara lain ada yang berupa
logam-logam berat seperti arsen (As), kadmium (Cd), berilium
(Be), Boron (B), tembaga (Cu), fluor (F), timbal (Pb), air raksa (Hg), selenium
(Se), seng (Zn), ada yang berupa oksida-oksida karbon (CO dan CO2 ),
oksidaoksida nitrogen (NO dan NO2), oksida-oksida belerang (SO2
dan SO3), H2S, asam sianida (HCN), senyawa/ion klorida,
partikulat padat seperti asbes, tanah/lumpur, senyawa hidrokarbon seperti
metana, dan heksana. Bahan-bahan pencemar ini terdapat dalam air, ada yang
berupa larutan ada pula yang berupa partikulat-partikulat, yang masuk melalui
bahan makanan yang terbawa ke dalam pencernaan atau melalui kulit.
Bahan
pencemar unsur-unsur di atas terdapat dalam air di alam ataupun dalam air
limbah. Walaupun unsur-unsur di atas dalam jumlah kecil esensial/diperlukan
dalam makanan hewan maupun tumbuh-tumbuhan, akan tetapi apabila jumlahnya
banyak akan bersifat racun, contoh tembaga (Cu), seng (Zn) dan selenium (Se)
dan molibdium esensial untuk tanaman tetapi bersifat racun untuk hewan.
Air
merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan di muka bumi terutama bagi manusia.
Oleh karena itu apabila air yang akan digunakan mengandung bahan pencemar akan
mengganggu kesehatan manusia, menyebabkan keracunan bahkan sangat berbahaya
karena dapat menyebabkan kematian apabila bahan pencemar itu tersebut menumpuk
dalam jaringan tubuh manusia.
Bahan
pencemar yang menumpuk dalam jaringan organ tubuh dapat meracuni organ tubuh
tersebut, sehingga organ tubuh tidak dapat berfungsi lagi dan dapat menyebabkan
kesehatan terganggu bahkan dapat sampai meninggal. Selain bahan pencemar air
seperti tersebut di atas ada juga bahan pencemar berupa bibit penyakit
(bakteri/virus) misalnya bakteri coli, disentri, kolera, typhus, para typhus,
lever, diare dan bermacammacam penyakit kulit. Bahan pencemar ini terbawa air
permukaan seperti air sungai dari buangan air rumah tangga, air buangan rumah
sakit, yang membawa kotoran manusia atau kotoran hewan.
Banyak
macam makhluk yang hidup dalam air antara lain bermacam-macam ikan, buaya, penyu,
katak, mikroorganisme, ganggang, tanaman air dan lumut. Kesemuanya termasuk
dalam kehidupan akuatik. Apabila sumber air tempat kehidupan akuatik tercemar,
maka siklus makanan dalam air terganggu dan ekosistem air/kehidupan akuatik
akan terganggu pula. Misal organisme yang kecil/lemah seperti plankton banyak
yang mati karena banyak keracunan bahan tercemar, ikan-ikan kecil pemakan
plankton banyak yang mati karena kekurangan makanan, demikian pula ikan-ikan
yang lebih besar pemakan ikan-ikan kecil bila kekurangan makanan akan mati.
Kehidupan
akuatik dapat pula terganggu karena:
a)
Perairan kekurangan kadar oksigen atau sinar matahari yang disebabkan
air menjadi keruh oleh pencemaran tanah/lumpur.
b)
Permukaan perairan tertutup oleh lapisan bahan pencemar
minyak atau busa deterjen, sehingga sinar matahari dan oksigen yang diperlukan
untuk kehidupan akuatik tidak dapat menembus permukaan air masuk ke dalam air.
c) Berkurang/habisnya kadar oksigen dalam proses
pengairan bahan pencemar senyawa organik.
d) Permukaan air tertutup oleh tanaman air seperti
enceng gondok sebagai bahan pencemar yang tumbuh subur oleh adanya bahan
pencemar berupa makanan penyubur tanaman seperti senyawasenyawa fosfat,
nitrat.
e) Peningkatan suhu air karena adanya bahan
pencemar panas dari industri-industri yang menggunakan air sebagai pendingin,
atau sebagai air bangunan dari pembangkit tenaga listrik.





